The bitter truth
6 min read

The bitter truth

Tahun 2015 gue memutuskan untuk mengambil pendidikan di bangku kuliah mengambil studi Teknik Informatika, jurusan yang seharusnya related dengan gue. Kampus yang gue pilih berada di Bandung yang sekaligus menjadi alasan mengapa gue sudah tinggal selama 7 tahun di kota ini.

Jurusan tersebut, sekali lagi, related dengan gue. Hampir semua yang dipelajari seharusnya akan berguna ketika lulus dan berkarir di industri nanti. Beberapa kampus menginginkan lulusan Teknik Informatika menjadi seorang "System Analyst" yang gue rasa sudah kurang relevan khususnya di tahun 2022 seperti sekarang.

Di tahun kedua yakni 2017, gue mulai berkarir penuh waktu dengan bekerja sebagai Frontend Developer di salah satu startup yang berbasis di Bandung. Sebelumnya gue hanya pekerja lepas di Upwork dengan spesialisasi Fullstack Developer dan System Administrator, dan cukup berpengalaman "bekerja remote" dari sebelum WFH menjadi sesuatu.

Di tahun tersebut gue masih bisa menyeimbangkan antara pekerjaan dan pendidikan. Bahkan gue masih menyempatkan untuk berkomunitas juga. Seiring berjalan waktu, beban kerja semakin berat dan tanggung jawab semakin banyak. Energi banyak terkuras di pekerjaan sehingga gue harus mengorbankan sesuatu. Yang gue korbankan pada waktu itu adalah pendidikan, alih-alih kesehatan ataupun pekerjaan gue.

Waktu terus berjalan, dan mengambil kelas karyawan pun tidak efektif sekalipun bayaran semester lebih mahal 1jt dari kelas biasa serta berbagai alasan lainnya. Beberapa mata kuliah ada yang mengulang karena ketidak-becusan gue dalam mempelajari mata kuliah tersebut, dan setiap semester gue kebanyakan mengambil ulang mata kuliah di semester ganjil ataupun semester genap, more or less.

Pada tahun 2019, gue benar-benar siap untuk meninggalkan dunia perkuliahan.

Pertimbangan utamanya adalah kesombongan gue. Gue merasa yakin kalau gue hanya mempelajari sesuatu yang sudah gue tahu. Untuk beberapa orang, justru ini bagus yang berarti seharusnya gue bisa mendapatkan nilai yang yoi jika memang gue sudah mengetahui apa yang akan dipelajari.

Untuk gue, karena kesombongan gue tersebut, gue malah merasa seperti buang-buang waktu. Gue merasa, seperti kurang worth it bila menggadaikan waktu; tenaga dan uang gue hanya untuk mendapatkan nilai yang dianggap idaman setiap orang itu.

Ada 2 hal yang berada di depan gue dan yang mana salah satunya harus dikorbankan: pekerjaan dan pendidikan. Karena jika gue tidak mengorbankan salah satu dari 2 hal tersebut, seharusnya yang akan gue korbankan nanti adalah kesehatan gue.

I might still continue my career while still getting the degree, but at what cost?

Satu hari umumnya ada 2 mata kuliah, dan anggap total ada 5 SKS setiap hari. Normalnya kerja 8 jam, ditambah 5 jam untuk kuliah tok. Tidak jarang ada tugas, anggap 2 jam setiap tugas walaupun angka tersebut mustahil. Sudah 15 jam budget waktu gue terhabiskan. Masih ada sisa 9 jam, anggap gue tidur 8 jam per-hari. Ada 1 jam tersisa. Mau dipakai apa? Makan? Mandi? Chill? Makan sambil mandi sambil chill?

Tentu itu tidak setiap hari, setidaknya hanya 20 hari dalam sebulan tidak termasuk libur nasional. Untuk sekarang yang hanya bekerja 8 jam per-hari yang jarak dari tempat kerja ke rumah cuman ~250m plus kerjanya cuman didepan laptop aja udah cukup kerasa capeknya, mostly di capek pikiran. Apalagi jika gue masih mengambil kuliah?

Dulu pernah diingatkan sama nyokap untuk tetap fokus di kuliah dulu daripada langsung berkarir, dan ternyata apa yang beliau khawatirkan 6 tahun yang lalu terjadi.

Meninggalkan pendidikan perkuliahan adalah keputusan terberat yang pernah gue ambil, meskipun gue tidak pernah menyesali keputusan yang sudah gue pikirkan sangat matang. Penyesalannya bukan karena gue sudah menghabiskan yang tidak sedikit secara sia-sia, ataupun tidak memiliki gelar setelah nama gue, ataupun status sosial gue berbeda dengan mereka yang memiliki gelar.

Namun kekecewaan orang lain yang harus gue hadapi nanti.


5 tahun gue menyembunyikan kebenaran.

Seharusnya gue tidak pernah berbohong karena secara teknis pada saat itu gue masih bayar kuliah ketika ditanya "gimana kuliahnya?" sama nyokap. Sampai suatu saat orang tua gue sudah tidak pernah bertanya tentang itu lagi semenjak gue sering menghindar jika akan berkaitan dengan pertanyaan itu.

Komunikasi dengan orang tua menjadi cukup renggang, dan seperti biasa, jika terdapat kurangnya komunikasi, berarti ada sesuatu yang disembunyikan. Ada sesuatu yang tidak beres. Ada sesuatu, yang, tinggal menunggu momentumnya untuk diberitahukan.

Gue pada saat itu bisa saja berubah. Seperti, meskipun komunikasi masih renggang, tiba-tiba gue mengabari orang tua gue kalau gue mau wisuda. Kerengganan komunikasi terasa "worth it" karena menjadi solusi win-to-win untuk kedua belah pihak. Tapi kenyataannya, bukan itu pilihan yang gue ambil.

Gue tidak bisa memutuskan; mengambil apalagi memperjuangkan pilihan tersebut. Gue mengambil keputusan gue sendiri karena gue merasa yakin kalau gue pun berhak untuk membuat keputusan gue sendiri. Keputusan ini beresiko, bahkan sangat beresiko. Tidak ada yang mengambil ataupun mendukung keputusan gue yang ini selain diri gue sendiri. Semua keluarga, rekan kerja, dan orang-orang yang pernah memilih hubungan dengan gue selalu menyarankan untuk mengambil sebaliknya, dan itu dapat dimengerti. Jika alasan utama mereka adalah karena gue harus memikirkan orang tua gue, tapi mengapa mereka tidak memikirkan gue juga?

I mean, tentu saja gue pun mau menyelesaikan studi gue. Mendapatkan gelar, merasakan wisuda, membahagiakan orang tua. Jika gue sanggup melakukannya, pada akhirnya pasti akan gue lakukan juga. Gue orang yang cukup keras kepala dan merasa memiliki pendirian, dan jika gue sudah menyerah, harusnya gue memang tidak sanggup melakukannya terlepas alasannya apa.

Tidak jarang gue memaksakan suatu kehendak, sampai gue tahu kapan harus berhenti. Gue gak peduli berapa kali gue gagal dalam mencoba sesuatu, karena gue akan berhenti jika memang sudah berhasil ataupun sudah mendapatkan momen kapan harus berhenti.

Alias, bukan tentang seberapa banyaknya.


Idul Fitri tahun 2022 kemarin, gue harus bilang ke orang tua gue. Bagaimanapun gue tidak boleh terus egois. Mereka harus mengetahuinya, sekalipun gue sudah tahu apa yang akan terjadi setelahnya.

Gue tidak ingin terus memberikan harapan palsu kepada mereka. Gue tidak ingin mereka merasa tenang dengan kesemuan. Gue hanya menunggu momentum, dan gue rasa Idul Fitri tahun 2022 adalah waktu yang pas.

Lalu gue ceritakan kepada orang tua gue, meyakinkan mereka bahwa yang salah bukanlah mereka, dan meyakinkan mereka bahwa gue sudah cukup dewasa untuk membuat keputusan. Gue tidak menuntut apapun selain dukungan mereka terhadap keputusan yang gue pilih.

Tidak ada yang berubah setelah itu selain kekecewaan yang mendalam.

Bokap gue sudah melepas gue cukup lama, dan gue rasa beliau sudah menerimanya sejak lama juga. Nyokap gue terkadang masih melamun setiap melihat gue, atau setiap melihat foto yang ada di dinding Tidak jarang matanya mengeluarkan air mata sedikit meskipun gue yakin kalau ditanya jawabannya selalu "ngantuk", mengingat ini bukan kali pertama gue mengecewakan beliau.

Kekecewaan terbesar nyokap gue sepertinya adalah merasa bahwa doanya tidak dikabulkan oleh tuhan (atau bijaknya "dikabulkan dengan cara yang lain") mengingat beliau selalu mendoakan gue dalam perkuliahan gue.

Sekarang mereka sudah mengetahui kebenarannya.

Gue tidak perlu menghindar dalam berkomunikasi, tidak perlu merasa berat ketika hendak pulang ke rumah orang tua, dan tidak perlu memberikan harapan palsu lagi kepada mereka.

Semua keluarga gue sudah tahu. Dan sekarang, siapapun yang membaca ini pun sudah tahu karena gue rasa ini sudah bukan lagi menjadi rahasia.

Ketika gue hendak kembali ke Bandung, bagian ini yang paling berat. Mata gue panas dan dada gue sangat sesak melihat mamah gue. Perasaan gue campur aduk karena gue tidak tahu apa yang mamah gue pikirkan dan rasakan.

Terdapat air mata di kedua mata mamah, dan ketika beliau berbicara untuk bilang "hati-hati a" secara terbata-bata, hati gue hancur.

Gue tahu bahwa mamah gue menahan tangisan yang sangat dalam, sampai gue beranjak dari pekarangan rumah.


Di jalan, pikiran gue tidak tenang, tentu saja. Tidak ada pesan "cepet selesain kuliahnya" sebagaimana biasanya setiap kali gue kembali ke Bandung.

Satu-satu alasannya gue mengapa tinggal di Bandung adalah karena alasan studi, sekaligus menjadi alasan mengapa gue menunda untuk memberitahukan mereka tentang kebenaran dari perkuliahan gue karena gue belum ingin kembali melanjutkan hidup di Serang.

PR terberat gue hari ini adalah membuktikan bahwa keputusan yang gue pilih adalah keputusan yang tepat. Membuktikan, bahwa, apa yang mereka takutkan tidak akan terjadi. Membuktikan, bahwa, mereka, adalah orang tua terbaik yang pernah gue miliki.

Tidak banyak yang gue butuhkan dari mereka selain dukungan dan doa.

Gue rasa gue belum gagal untuk bisa menjadi panutan terhadap adik-adik gue sebagai anak pertama. Gue rasa gue masih punya kesempatan untuk mendapatkan "tuh kayak si aa" alih-alih "jangan kayak si aa", kecuali di urusan perkuliahan. Gue rasa, gue masih memiliki kesempatan untuk bisa dibanggakan oleh orang tua gue.

Ketika gue sampai di Bandung, tidak lama setelah itu mamah gue menyarankan untuk beli rumah di Bandung. Beliau menyebutkan nama tempat, dan hampir adik-adik beliau (om gue) menyebut daerah yang sama yang gue rasa mungkin mereka memiliki kenangan disana ataupun karena memang daerah tersebut terkenal karena huniannya.

Gue sedikit senang yang berarti mamah gue mendukung gue untuk tidak harus kembali ke Serang, karena gue pernah memberikan alasannya yang mana terkait karir.

Dan sekarang, pesan mamah dan papah gue menjadi sama: Jangan tinggalin solat.

Yang membuat gue berpikir bahwa sesayang itu mereka dengan anak-anaknya.


Dulu gue paling dekat dengan papah, mungkin karena waktu gue banyak dihabiskan dengan beliau mengingat ketika sekolah gue sering diantar dan dijenguk beliau.

Hampir setiap anak-anaknya lebih dekat dengan beliau, dan terkadang gue memilih mengalah karena mamah gue kadang tidak mendapatkan dukungan khususnya dari anak-anaknya.

Keluarga gue dulu hampir berantakan sampai pada akhirnya mereka memilih untuk tetap bertahan bersama. Ada satu sisi yang disembunyikan oleh mamah gue yang gue lihat, meskipun mamah gue mungkin cukup kuat untuk menahannya, tapi gue yakin ada hal yang beliau sembunyikan dibalik ketegarannya tersebut.

Gue sangat ingin membahagiakan mamah gue, menghilangkan sedikit kesedihan-kesedihannya yang selama ini beliau rasakan, dan memberikan sebanyak yang gue bisa akan apapun yang beliau ingin dan layak untuk didapatkan.

Kadang gue sedikit sedih jika mamah membuat story di WhatsApp, atau ketika mendengarkan mereka berdiskusi ataupun berdebat. Ingin sekali gue membawa mamah ke tempat yang beliau inginkan, dan mengucapkan "mamah masih punya aldy" sekalipun tidak ada yang ikut dengan kami.

Gue tidak terlalu masalah jika beliau pernah ataupun sering kecewa dengan gue, tapi setidaknya gue ingin membuat beliau merasa bangga karena pernah melahirkan seorang anak bernama Fariz Rizaldy.

Sehingga perjuangan beliau dari proses mengandung, melahirkan, dan membesarkan, terbayar setimpal atau lebih.

Sekalipun seorang anak mungkin tidak pernah meminta untuk dilahirkan.