To not giving a fuck
5 min read

To not giving a fuck

Atensi adalah salah satu mata uang di internet. Ruang kosong dibagian kanan halaman di hampir setiap situs berita; overlay dibawah video di Youtube, ataupun video autoplay setiap kali membuka aplikasi TikTok, menginginkan satu hal: Atensi.

Dilihat saja sudah menambah metriks, apalagi jika ada action yang dilakukan.

Pada tahun 2019 kemarin ada satu buku bagus yang berhasil gue baca: The Subtle Art of Not Giving a Fuck. Bukunya ringkas, bahasanya sederhana, dan somehow gue sangat menikmatinya. Bila merefleksikan diri gue di masa lalu, pada saat itu gue relatif banyak memberikan perhatian gue kepada banyak hal; dari yang penting sampai ke yang biasa aja.

Setelah membaca buku tersebut pikiran gue terbukakan bahwasanya gue tidak bisa peduli ke banyak hal, pada akhirnya. Bagaimanapun gue memiliki urusan dan masalah juga, tidak jarang banyak, dan sayangnya setiap orang memiliki waktu yang sama yakni 24 jam dalam sehari, tidak kurang dan tidak lebih. Namun waktu bukanlah yang menjadi alasan utama gue, melainkan "umpan balik" yang didapat ketika gue memberikan waktu gue untuk sesuatu yang harus gue pedulikan tersebut.

Apa yang gue rasakan ketika 10 menit gue dihabiskan untuk melihat pembaruan Instagram Stories dari teman-teman gue?

Apa yang gue rasakan ketika 30 menit membuka Twitter dan melihat pembaruan di lini masa gue?

Jawabannya beragam namun seringnya gue merasa capek; bingung, dan terkadang marah. Namun dari buku tersebut gue belajar bahwa salah satu seni untuk tidak memperdulikan adalah bukan dengan "menutupnya" namun dengan... menghiraukannya.

Seperti, alih-alih lo menutupi jendela dengan gorden karena merasa keterangan akan cahaya matahari yang masuk, melainkan lo menghindarinya dengan tidak melihat ke jendela tersebut.

You lose the battle but you win the war.

The game of giving a fuck

Pernah suatu ketika gue sedang diganggu oleh seseorang. Tidak secara langsung, namun siapapun akan tau jika itu ditunjukkan untuk gue.

Seseorang tersebut jelas membutuhkan atensi dari gue, terlepas tujuannya apa. Jika tujuan adanya banner iklan adalah agar diklik oleh siapapun yang melihatnya, yang ini adalah agar gue memberikan waktu gue untuk menggubrisnya.

Sesuatu yang dia lakukan adalah aktivitas yang setiap orang tidak inginkan, bukan hanya gue. Lalu gue seperti diajak bermain yang mana dia membuat kondisi dimana gue adalah penjahat dan alasan dia melakukan hal tersebut adalah gue.

Gampangnya seperti ini. Lo mencuri makanan karena lo lapar, ketika lo ditangkap, alasan lo mencuri adalah karena gue tidak memberikan makanan. Disitu gue seakan-akan seperti penjahat yang membuat orang lain berpikir "Jahat banget dia gak ngasih makanan" dan seharusnya membuat gue berpikir seperti "Andai gue kasih dia makanan, pasti dia gak melakukan hal itu".

Yang padahal, tindakan "mencuri makanan" tersebut murni dilakukan oleh orang tersebut. Tidak ada satupun yang menyuruh dia untuk melakukannya, dan masih banyak cara lain yang mungkin bisa dilakukan tanpa harus merugikan siapapun.

Jika tindakan yang dia yakini adalah hal yang benar, silahkan bayangkan dunia dimana setiap orang menghalalkan segara cara untuk selalu bisa mendapatkan apa yang dia inginkan.

The cost of giving a fuck

Sekarang begini, anggap gue memberikan atensi yang dia butuhkan. Apa yang dia dapat?

Kepuasan.

Seperti lo sedang ingin minum, meminta air ke gue, lalu gue memberikannya.

Yang padahal lo sedang tidak haus sama sekali sedangkan gue membutuhkan air tersebut untuk hal lain.

Hal ini merugikan siapapun. Pertama, ini merugikan diri lo sendiri. Sesuatu yang lo anggap benar tersebut mendapatkan validasi bahwasannya anggapan tersebut sudah menjadi fakta. Sehingga lo akan terus melakukan hal tersebut karena tidak ada yang menganggap hal tersebut adalah sebuah kesalahan.

Kedua, itu merugikan orang lain, tentu saja.

Harusnya aneh jika lo tidak mengerti poin ini.

Are you just lacking empathy?

Begini, bukan berarti lo tidak menolong orang sama dengan lo tidak memiliki empati. Lihat sekeliling lo, lalu lihat ke yang lebih luas; peperangan, keterbatasan makanan, pandemi yang tak kunjung selesai, pemanasan global.

Apakah lo peduli dengan hal itu? Tentu.

Tapi apa yang bisa lo lakukan? Hanya melakukan yang lo mampu.

Pertanyaannya, apakah lo tidak memiliki masalah juga? Besar kemungkinan jawabannya adalah punya. Terlepas masalah tersebut besar atau kecil, masalah tetaplah masalah.

Dan gue merasa lucu dengan kondisi menomor satukan orang lain dan menomor duakan diri sendiri. Mungkin gue nya aja yang terlalu individualis, tapi, sebagai contoh, meminjamkan uang ke teman sedangkan kita membutuhkan uang tersebut adalah hanya memindahkan masalah teman lo tersebut ke diri lo sendiri.

Siapa yang akan membantu lo?

Teman lo lagi?

Lalu membuat skema Ponzi dimana orang yang terakhir yang paling rugi? Atau mendapat keberuntungan karena orang terakhir tajir melintir?


Dalam belajar dari pengalaman, ada dua tipe yang sejauh ini gue ketahui: belajar dari pengalaman orang lain dan belajar dari pengalaman diri sendiri.

Untuk dapat mengira bagaimana seseorang tersebut belajar, lo setidaknya bisa lihat dari cara dia mendengar. Jika dia hanya ingin mendengar apa yang ingin dia dengar, besar kemungkinan orang tersebut adalah tipe yang hanya ingin belajar dari pengalamannya sendiri. Dia tidak akan percaya bahwa duri itu tajam sampai tangan dia sendiri yang berdarah ketika menyentuhnya.

Di masa lalu ada seseorang yang menyakiti dirinya sendiri yang dengan maksud ingin mendapatkan perhatian dari diri gue, yang gue rasa agar gue merasa bersalah. Jika memang tujuannya bukan itu, toh dia bisa menyakiti diri sendiri tanpa harus memberitahukan kepada siapapun.

Gue tidak terbayang jika dia menyayat tangannya setiap kali ingin mendapatkan apa yang dia inginkan, akan seperti apa tangan tersebut? Bayangkan ketika dia butuh perhatian gue, lalu gue tidak merespon. Lalu dia menyayat tangannya dan membagikannya ke media sosial, lalu gue respon. Apalagi yang ada di pikirannya jika bukan "Oh gini caranya biar dapet perhatian dari lo"?

Dan gue membiarkannya.

Gue ingin memberitahu bahwa cutting tidak menyelesaikan apapun dan masih banyak cara yang bisa dilakukan untuk mendapatkan "ketenangan sesaat" tanpa harus menyakiti diri sendiri.

Gue ingin memberitahu bahwa yang punya masalah ataupun yang menderita di dunia ini bukan hanya dia.

Gue ingin memberitahu bahwa yang tidak mendapatkan apa yang diingkan bukan hanya dia.

Dan gue bukan bermaksud balas dendam akan apa yang pernah dan atau sedang gue rasakan.

Sekali lagi setiap orang berbeda-beda dalam belajar dari pengalaman, dan gue hanya membantunya untuk memahami.


Jika lo merasa sedang dalam peperangan, lo harus fokus bahwa yang harus lo lakuin adalah menang dalam peperangan, bukan pertempurannya.

Jika serangan yang didapat dirasa menganggu, jelas itu tujuan mereka.

Dalam peperangan, tidak ada yang menang atau kalah. Hanya rugi dan yang paling merugi. Since waktu adalah uang, siapapun yang merasa paling banyak dihabiskan waktunya, dialah yang dirasa paling merugi.

Meskipun jalan keluar dari peperangan dingin adalah dengan berbicara, terkadang memilih diam adalah jalan keluar untuk menghindari peperangan yang memakan kerugian yang lebih besar. Tidak ada yang menang ataupun kalah, hanya yang rugi dan yang paling rugi.

Jika sesuatu akan berhenti ketika sudah mendapatkan apa yang diinginkan, seharusnya sesuatu tersebut bisa berhenti juga ketika tidak mendapatkan apa yang diinginkan.

Kapan akan berhenti? Biasanya ketika merasa apa yang didapat tidak sebanding dengan apa yang dikeluarkan.

Mungkin lo tidak percaya, sampai lo merasakannya sendiri.

Dalam melakukan hal yang merugikan orang lain, gue tidak jarang berpikir seperti "Bagaimana bila orang tersebut adalah gue?" lalu mengurungkannya karena percaya bahwa karma itu ada, khususnya untuk karma buruk.

Dan bila ternyata orang tersebut adalah gue, mau tidak mau gue akan menjadi bagian dari karma buruk seseorang tersebut, demi kebaikan dia sendiri, jika memang dia ingin membenah diri.

Sebagai penutup, peperangan sendiri tidak akan ada jika tidak ada yang memulai.

Namun jika sudah terlanjur termulai, gue sudah memberikan salah satu cara untuk memenangkannya.

Dan salah satu penyebab dimulainya adalah ketika giving a fuck.

Membandingkan orang lain dengan diri sendiri.

Mempertanyakan keberhasilan orang lain dengan kegagalan diri sendiri.

Mencari kesalahan orang lain untuk mendapatkan pembenaran terhadap diri sendiri.

Dan tujuannya sudah jelas bukan sebagai bahan evaluasi ataupun motivasi, karena lo tahu mana langkah yang harus lo ambil ketika yang lo tuju adalah hal tersebut.

Some people might not realize it, now you did.