Ada satu fakta konyol yang sampai hari ini saya ingat: kecepatan gugurnya bunga sakura adalah 5cm per detik. Dan bukan tidak sengaja saya mengetahui fakta tersebut. Tapi bagian menariknya adalah, berdasarkan fakta tersebut, saya mengetahui beberapa fakta lain, seperti, bagi orang Jepang, sakura kerap kali diasosiasikan dengan perempuan, kehidupan kematian, serta juga merupakan simbol untuk mengekspresikan ikatan antar manusia, keberanian, kesedihan, dan kegembiraan.
Juga, sakura menjadi metafora untuk ciri-ciri kehidupan yang tidak abadi.
Dan bahkan, kejadian bunga sakura mekar pun dapat dinikmati dan memiliki sebutan khusus untuk menggambarkan aktivitas tersebut: hanami.
Saya tidak bermaksud meromantisasi bunga sakura, dan bahkan, saya belum pernah melihat bunga tersebut dengan mata telanjang. Ataupun mencium harumnya. Atau merasakan kehalusannya sebagaimana bunga pada umumnya.
Tapi saya sedikit penasaran, jika orang-orang menikmati gugurnya bunga sakura, apakah bunga sakura itu sendiri pun menikmati kegugurannya?
Saya menjadi teringat ketika kehidupan terlihat monokrom. Ketika kehidupan hanya memiliki satu warna, yang terkadang terbantu dengan berbagai cahaya. Terlepas apapun yang ditangkap mata, jika terlihat memiliki warna yang sama, maka tidak terlihat spesial. Bayangkan jika semua benda berkilau seperti warna emas, atau semua perhiasan berwarna statis seperti selembar kertas. Saya tidak terlalu ingat mengapa penglihatan saya menjadi seperti itu, namun yang saya cukup yakin, sepertinya karena keberadaan cahaya yang mulai memudar.
Bukankah warna tidak ada artinya jika tidak ada cahaya yang menyorotinya?
Sampai hari ini saya tidak mengetahui warna sebenarnya dari cahaya. Apakah putih? Atau kuning? Entahlah. Bahkan lampu bardi saya yang dulu dapat mengeluarkan cahaya berwarna merah, hijau dan biru.
Tapi, apakah penting mengetahui warna dari cahaya itu sendiri?
Malam ini saya sedang mengetik dalam gelap. Hanya sedikit cahaya yang datang dari layar laptop dan lampu kamar mandi. Meskipun sedikit, tanpanya, saya tidak bisa melihat apapun. Tanpa cahaya yang menerangi layar laptop, saya tidak mengetahui hasil pastinya apa yang saya pikirkan & ketik, dan apa yang sebenarnya tampil di halaman ini.
Dan seperti masa-masa pada saat itu: saya hanya mengetik, dalam gelap, hanya satu warna. Sedikit cahaya membantu untuk memastikan bahwa semua ketikan saya terketik. Apakah terdapat banyak kesalahan ketikan? Apakah ada hal yang harus saya perbaiki? Entahlah, saya pikirkan nanti, pikir saya pada saat itu.
Ketika saya sudah diterangi cukup banyak cahaya.
Dan ketika penglihatan saya sudah kembali melihat ragam warna.
Katanya, sesuatu akan lebih sulit dicari saat sedang dibutuhkan. Seperti kehadiran remote tv ketika ingin mengganti kanal, ataupun keberadaan petrol yang ditawarkan oleh stasiun pengisian bahan bakar lain ketika yang satu sedang terjerat masalah yang tidak kecil.
Tapi, apakah kebalikannya pun akan terjadi? Seperti, apakah sesuatu akan lebih mudah ditemukan saat sedang tidak dibutuhkan?
Entahlah, mungkin 13 Februari dapat menjawabnya.
Di hari yang acak, ada satu hal asing yang cukup saya rindukan: rasa gugup. Jantung saya berdetak lebih cepat dari biasanya, ada perasaan gelisah yang tidak berasal, dan sedikit rasa mulas yang sudah saya hafal. Setelah sekian lama, saya merasakan kembali getaran ini. Bukan karena memperkenalkan diri saat pertama kali masuk perkuliahan, dan bukan karena merasa asing saat berpindah ke suatu tempat. Namun sebuah perasaan takut tidak diterima, setelah sekian lama tidak peduli dengan kekhawatiran orang lain.
Dan momen itu adalah ketika akan bertemu dengan seseorang.
Pada saat itu, Bandung sedang gerimis sedikit. Saya akan menemui seseorang yang sebelumnya hanya saya kenal secara daring di tempat yang sebelumnya tidak pernah saya datangi. Ada sedikit kekhawatiran ketika ingin menemuinya, beberapa kali saya melihat wajah saya di spion dan mencium badan saya sebelum mendatanginya. Saya hanya ingin memastikan lagi bila saya terlihat dan beraroma sebagaimana yang saya inginkan. Sesekali saya kepikiran seperti “apakah ada yang kurang?”, “apakah terlalu berlebihan?” dan berbagai pertanyaan lain yang membuat rasa gugup saya semakin menjadi. Saat bertemu, segala rasa gugup dan pertanyaan lain menjadi tidak penting.
Bahkan jika Bandung pada saat itu diguyur hujan besar pun saya tidak peduli.
Karena yang saya pedulikan pada saat itu hanyalah seseorang yang berada di jok belakang saya, yang sedang berceloteh tentang jahitan atau semacamnya.
Udara Bandung terasa dingin seperti biasanya. Tidak banyak yang saya lakukan, hanya berbicara; mendengarkan, dan sesekali meminum es kopi yang cukup dingin. Disaat mengobrol, terkadang saya memikirkan kekhawatiran jika ternyata saya tidak mengobrol sebagaimana yang dilakukan secara daring. Pada saat itu, saya rasa ada yang lebih penting dari itu: alih-alih mengkhawatirkan, bagaimana jika berusaha untuk membuat sesuatu yang saya khawatirkan itu tidak terjadi?
Saat itu saya tidak tahu apakah usaha tersebut berhasil, tapi sepertinya waktu lah yang menjawabnya.
Namanya adalah Ratu. Jika penasaran bagaimana kami bisa bertemu, jawabannya ada di situs ini. Sedikit cringe, tetap pada akhirnya berhasil juga.
Saya membuat situs tersebut selama 3 jam sebelum Claude Code dan semacamnya ada. Setiap beberapa menit, saya memuat ulang halaman Cloudflare KV untuk memastikan jika saya sudah mendapatkan nomornya. Beberapa kali saya melakukan pengujian manual juga untuk memastikan tidak ada error dan semacamnya. Sekitar jam 17 lewat sedikit, yang ditunggu datang. Ada perasaan lega dan bahagia yang bercampur aduk. 30 Januari adalah chat pertama saya dengan Ratu, saya cukup ingat bila pada saat itu dia selalu bilang jika cara chat saya unik dan menghibur. Yang sekaligus menjadi kekhawatiran saya ketika pertama kali bertemu secara tatap muka.
Lalu sesuatu berjalan dengan lancar bahkan sampai saya menerbitkan halaman ini. Dan, ya, sedikit cringe juga. Tapi lagi-lagi apa? Benar.
Waktu terus berlalu dan ada banyak hal tentang saya, tentang Ratu, tentang kami, yang saya rasa tidak perlu semuanya dunia harus tahu. Saya hanya ingin menegaskan bila saya merasa sangat beruntung dapat bertemu dan bersama dengan Ratu.
Dan saya rasa tidak ada yang lebih penting untuk dunia selain hal itu?
Tanpa disadari, penglihatan saya mulai terlihat berwarna.
Yang saya rasa, bukan karena penglihatan saya kembali normal. Tapi karena satu sosok yang memberikan warna lain di kehidupan saya ini.
Saya kembali merasa hidup. Memiliki tujuan untuk apa saya bangun pagi, dan untuk apa saya membuat harapan.
Perihal cuaca menjadi candaan kami pada masa-masa itu. Ketika langit mendung, atau bahkan ketika Bandung diguyur hujan.
Dan sekarang, bahkan segala musim sudah kami lewati, yang dilengkapi dengan canda-tawa suka-duka bersama.
Saat berbicara tentang tempat, beberapa orang yakin jika tempat yang paling terbaik adalah sebuah tempat bernama surga alias kahyangan. Dalam agama Islam, ada beberapa jenis surga, dari surga firdaus yang adalah surga tertinggi, surga ‘adn yang juga dapat disebut sebagai “taman eden” di kepercayaan lain dan surga-surga lain yang pada intinya menggambarkan sebuah tempat yang memberikan segala kenikmatan yang tidak ada di dunia.
Surga seringkali disebut sebagai “jannah” dalam bahasa Arab yang berarti taman bunga, yang dapat diartikan juga sebagai sesuatu yang tetutup, karena jannah pada dasarnya tidak terlihat oleh mata.
Terkadang saya memikirkan, jika saya tidak pernah melihat bunga sakura di dunia, dan saya mendapatkan kesempatan untuk berada di surga, apakah saya bisa melihat bunga tersebut disana? Saya sangat ingat pernah bertanya tentang surga ke papah saya, dan kata papah saya dulu, segala sesuatu ada di surga. Termasuk PS2, termasuk es krim. Meskipun waktu itu yang saya ingat papah saya menambahkan “tapi di surga kamu gak akan lapar apalagi pengen main PS”. Tapi anyway, saya yakin pasti di surga juga ada pohon sakura. Ya kan, pah?
Tapi saya kepikiran juga, bagaimana jika saya tidak mendapatkan kesempatan untuk dapat tinggal di surga? Bagaimana jika saya tidak bisa melihat pohon sakura di dunia dan di akhirat juga?
Apakah yang saya pedulikan dari surga hanyalah pohon sakura?
Saat hendak tidur, terkadang saya membayangkan sebuah tempat yang indah. Sebuah taman, sebuah rumah, dan segala hal yang saya inginkan di dunia. Tempat itu terasa aman dan nyaman, se-aman dunia seperti milik berdua dan senyaman seperti diterima menjadi diri sendiri tanpa dituntut menjadi orang lain. Saya tambahkan pohon-pohon sakura berbekal cuplikan anime dan menghitung berapa detik waktu yang dibutuhkan untuk bunga tersebut sampai ke kening saya lalu jatuh tertidur saat menghitung. Saya membayangkan pohon sakura yang sangat tinggi, karena bahkan saya tidak mengetahui dengan pasti setinggi apa pohon tersebut didepan mata.
Perasaan aman dan nyaman itu terasa familiar, bahkan tidak perlu menghitung lagi untuk bisa terjatuh tidur dengan damai.
Saya berpikir, jika saya tidak bisa merasakan surga di akhirat, setidaknya saya ingin merasakannya di dunia. Tentu tidak sebanding, khususnya jika dibandingkan dengan sesuatu yang tidak terbandingkan.
Tapi saya tidak ingin mendapatkan neraka di kedua tempat, meskipun saya mungkin pantas mendapatkannya.
Mungkin surga dan neraka adalah metafora karena keterbatasan manusia dalam kemampuannya mengartikan sesuatu. Dan mungkin bisa saja itu adalah sebuah tempat atau mungkin seseorang.
Dalam doa, saya sudah tidak lagi meminta surga untuk segala tindakan yang saya perbuat di dunia. Melainkan, sebuah ridha untuk dapat mendapatkan surga versi saya sendiri. Urusan akhirat saya pasrahkan di hari perhitungan nanti, dan untuk saat ini, saya berharap restu dari yang Maha Pencipta untuk segala harapan dan usaha yang sedang dilakukan.
Menurut hadist yang diriwaytkan oleh Tirmidzi, ridho Allah terdapat pada ridho orang tua, dan murka Allah juga terdapat pada murkanya orang tua. Maka sebagai langkah nyata awal, kami meminta ridho dari orang tua kedua belah pihak dengan dilangsungkannya proses khitbah.
Kami yakin perjalanannya tidak akan mudah, agar kami terus berdoa dan tidak melupakan tujuan utama dari apa yang kami usahakan ini.
Proses pemasangan cincin di jari manis dilakukan sebagai simbolis setelah khitbah. Ada rasa haru dan bahagia yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, terlebih ketika melihat orang tua dan sanak sodara yang menemani.
Ini baru permulaan, masih ada persiapan; seserahan, mas kawin dan mungkin bunga sakura juga yang perlu diusahakan. Yang pasti, ridho dari kedua orang tua sudah didapatkan dan semoga terus diberikan sampai hari-hari lain yang akan datang.
Saya jadi mengerti bagaimana rasanya menjadi orang yang paling bahagia, dan karenanya, saya ingin merasakannya lagi.
Terus sampai hari nanti.
